SEKILAS KODIFIKASI HADITS
Eksistensi hadits di mata umat Islam sangatlah urgen. Karena hadits menurut sebagian besar ulama merupakan sumber hukum Islam yang kedua. Dalam pengkodifikasiannya, hadits memiliki liku-liku yang cukup panjang, bukannya tidak mungkin jika para sahabat yang cinta ilmu tidak mau memelihara hadits dengan baik, kemungkinan hadits-hadits Nabi SAW sudah ditelan masa. karena untuk menghimpun hadits diperlukan ketelitian yang sangat tinggi. Dan juga pada masa itu hadits lebih banyak terpelihara dalam ingatan daripada dalam catatan para sahabat. Melihat dari itu sudah selayaknyalah kita sebagi umat Muhammad yang cinta akan al-Qur’an dan hadits selalu belajar untuk memahami segala hal yang berkaitan dengan kedua sumber hukum seluruh umat dipenjuru dunia itu.
Maka dalam makalah yang sederhana ini kami menyajikan sekelumit bagaimana sejarah hadits itu dikodifikasikan, bagaimana pendapat-pendapat para sahabat serta apa saja yang ada didalamnya. Mari kita telusuri man……..…………….!
II. PEMBAHASAN
Para sahabat sangat memperhatikan hadits Nabi Muhammad S A W. mereka berpegang teguh kepada hadits sebagaimana mereka berpegang teguh kepada al-Quran. Hadits-hadits yang mereka dengar dan mereka hafal, mereka pahami kalimatnya sesuai dengan petunjuk ucapan, perbuatan dan perilaku Nabi. Karena mereka bersentuhan langsung dengan Nabi, maka merekapun memahami situasi dan kondisi yang melatarbelakangi diucapkannya hadits.
Antusiasme para sahabat dalam menimba ilmu dari Nabi dalam hal wahyu dan hadits sangatlah besar. Secara bergantian mereka mendatangi Nabi. Imam Bukhori meriwayatkan hadits dari Umar bin Khattab tentang antusiasme para sahabat terhadap ilmu pengetahuan
كنت انا وجار لي في بن أيسية بن زير وهي من حوالى المدينة وكنت نتناوب النزول على رسول الله ينزل يوما. وأنزل يوما فاذا نزلت جئته بخبر ذالك اليوم من الوحي وغيره واذا نزل فعلى مثل ذالك { رواه البخارى}
Saya dan tetanggaku tinggal di kampung Umayah bin Zaid di pinggir daerah Madinah, kami datang bergantian kepada Nabi. Hari ini tetanggaku yang mengunjungi beliau, hari berikutnya aku yang pergi. Jika aku yang datang maka aku menyampaikan kepada tetanggaku itu segala apa yang kudapatkan dari Nabi. Demikian juga bila ia yang perg, ia melakukan seperti apa yang kuperbuat.