www.tafsir-hadis.com
 

Jurusan Tafsir Hadis

 Tentang
   Profil  
   Visi & Misi  
   Program Pembelajaran  
   Kurikulum  
 Akademika
   Praktikum Mahasiswa  
    + Kajian Tafsir  
    + Kajian Hadis    
    + Karya Tulis 3 Bahasa  
   Artikel Dosen  
 Kolom Tafsir Hadis
   Kolom Tafsir  
   Kolom Hadis  
 Jurnal Ilmiah
   Al Afkar  
   Al Bayan  
 Lain - Lain
   Alumni  
   Skripsi  
   Bahan Kuliah  
   Forum Diskusi  
   Sumbang Saran  
  Kolom Tafsir
-
  KOLOM TAFSIR
PENTINGNYA ILMU PENGETAHUAN BAGI DA'I DAN GURU
Jika ilmu pengetahuan harus dimiliki oleh orang yang  bergelut dalam dunia kehakiman dan fatwa, maka dia juga diperlukan oleh dunia da'wah dan pendidikan. Allah SWT berfirman:

"Katakanlah: "Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata..." (Yusuf: 108)

Setiap juru da'wah --dari pengikut Nabi saw-- harus  melandasi da'wahnya  dengan  hujjah  yang  nyata.  Artinya,  da'wah yang dilakukan   olehnya   mesti    jelas,    berdasarkan    kepada hujjah-hujjah  yang  jelas  pula.  Dia  harus  mengetahui akan dibawa ke mana orang yang dida'wahi olehnya?  Siapa  yang  dia ajak? Dan bagaimana cara dia berda'wah?

Oleh  karena  itu, mereka berkata tentang orang rabbani: yaitu orang  yang  berilmu,  beramal,   dan   mengajarkan   ilmunya; sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah SWT:

"... akan tetapi (dia) berkata, 'Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (yang sempurna ilmu dan taqwanya kepada Allah), karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu telah mempelajarinya." (Ali 'Imran: 79)

Ibn Abbas memberikan penafsiran atas  kata  "rabbani"  sebagai para ahli hikmah sekaligus fuqaha.9

Ada  yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan rabbani ialah orang yang mengajar manusia dengan ilmu kecilnya sebelum  ilmu itu menjadi besar.

Yang  dimaksud dengan ilmu kecil ialah ilmu yang sederhana dan persoalannya jelas.  Sedangkan  ilmu  besar  ialah  ilmu  yang pelik-pelik.  Ada  pula  yang  mengatakan  bahwa rabbani ialah orang  yang  mengajarkan  ilmu-ilmu   yang   parsial   sebelum ilmu-ilmu   yang  universal,  atau  ilmu-ilmu  cabang  sebelum ilmu-ilmu yang pokok, ilmu-ilmu  pengantar  sebelum  ilmu-ilmu yang inti.10

Yang  dimaksudkan dengan pernyataan itu ialah bahwa pengajaran itu dilakukan secara bertahap,  dengan  memperhatikan  kondisi dan   kemampuan   orang   yang   diajarnya,   sehingga   dapat ditingkatkan sedikit demi sedikit.

Persoalan yang perlu diperhatikan  oleh  orang  yang  bergerak dalam bidang da'wah dan pendidikan ialah bahwa juru da'wah dan pendidik itu mesti mengambil jalan yang paling mudah dan bukan jalan   yang   susah;   memberikan  kabar  gembira  dan  tidak menakut-nakuti mereka;  sebagaimana  disebutkan  dalam  sebuah hadits   yang  disepakati  ke-shahih-annya  oleh  Bukhari  dan Muslim,

"Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari."11

Al-Hafizh ketika memberikan  penjelasan  terhadap  hadits  ini mengatakan,

"Yang dimaksudkan dengan hal ini ialah menarik simpati hati orang yang hampir dekat dengan Islam, dan tidak melakukan da'wah dengan cara yang keras dan kasar pada awal mula kegiatan da'wah itu. Begitu pula hendaknya kecaman terhadap orang yang suka melakukan kemaksiatan. Kecaman itu hendaknya dilakukan secara bertahap. Karena sesungguhnya sesuatu yang pada tahap awalnya dapat dilakukan dengan mudah, maka orang akan bertambah senang untuk memasukinya dengan hati yang lapang. Pada akhirnya, dia akan bertambah baik sedikit demi sedikit. Berbeda dengan cara berda'wah yang dilakukan dengan keras dan kasar." 12

Yang  dimaksudkan  dengan  perkataan  ,mempermudah,  di   situ bukanlah  terbatas  pada orang-orang yang hampir dekat hatinya dengan Islam,  sebagaimana  yang  dijelaskan  oleh  al-Hafizh, tetapi   ia   berlaku   lebih   umum  dan  permanen.  Misalnya mempermudah jalan bagi orang  yang  hendak  melakukan  taubat, atau  kepada  setiap orang yang memerlukan keringanan; seperti orang yang sakit atau  sudah  tua  usianya,  atau  orang  yang berada di dalam keadaan yang mendesak.

Di  antara  keharusan  yang  berlaku di dalam ilmu pengetahuan ialah upaya untuk mencari  ilmu-ilmu  agama  sejauh  kemampuan yang  dimiliki  oleh  seseorang, sesuai dengan kadar kemampuan otaknya untuk menerima ilmu pengetahuan  tersebut.  Dia  tidak boleh   mengucapkan  sesuatu  yang  tidak  cocok  dengan  akal pikirannya, sehingga hal itu  malah  berbalik  menjadi  fitnah bagi dirinya dan juga kepada orang lain. Sehubungan dengan hal ini Ali r.a.  berkata,  "Berbicaralah  kepada  manusia  sesuai dengan  kadar  pengetahuan  mereka.  Tinggalkan apa yang tidak cocok dengan akal pikiran mereka.  Apakah  engkau  menghendaki mereka  mengatakan  sesuatu  yang  bohong  terhadap  Allah dan rasul-Nya?" 13

Ibn Mas'ud r.a.  berkata,  "Engkau  tidak  layak  menyampaikan sesuatu  yang tidak sesuai dengan kadar kemampuan otak mereka. Jika tidak, maka engkau akan menimbulkan fitnah pada  sebagian orang itu."

(14 Oct 2008/Kolom Tafsir/admin)
  indeks    
Back to Home

 Contact Us | Site Map | Site Credit

 

© 2008 Jurusan Tafsir Hadis IAIN Sunan Ampel

All rights reserved