PENTINGNYA ILMU PENGETAHUAN BAGI DA'I DAN GURU
Jika ilmu pengetahuan harus dimiliki oleh orang yang bergelut dalam dunia
kehakiman dan fatwa, maka dia juga diperlukan oleh dunia da'wah dan pendidikan.
Allah SWT berfirman:
"Katakanlah: "Inilah jalan (agama)-ku, aku dan
orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang
nyata..."
(Yusuf: 108)Setiap juru
da'wah --dari pengikut Nabi saw-- harus melandasi da'wahnya dengan hujjah
yang nyata. Artinya, da'wah yang dilakukan olehnya mesti jelas,
berdasarkan kepada hujjah-hujjah yang jelas pula. Dia harus mengetahui
akan dibawa ke mana orang yang dida'wahi olehnya? Siapa yang dia ajak? Dan
bagaimana cara dia berda'wah?
Oleh karena itu, mereka berkata tentang
orang rabbani: yaitu orang yang berilmu, beramal, dan mengajarkan
ilmunya; sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah SWT:
"... akan
tetapi (dia) berkata, 'Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (yang sempurna
ilmu dan taqwanya kepada Allah), karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan
disebabkan kamu telah mempelajarinya."
(Ali 'Imran:
79)Ibn Abbas memberikan penafsiran atas kata "rabbani"
sebagai para ahli hikmah sekaligus fuqaha.
9Ada yang berpendapat bahwa yang
dimaksud dengan rabbani ialah orang yang mengajar manusia dengan ilmu kecilnya
sebelum ilmu itu menjadi besar.
Yang dimaksud dengan ilmu kecil ialah
ilmu yang sederhana dan persoalannya jelas. Sedangkan ilmu besar ialah
ilmu yang pelik-pelik. Ada pula yang mengatakan bahwa rabbani ialah orang
yang mengajarkan ilmu-ilmu yang parsial sebelum ilmu-ilmu yang
universal, atau ilmu-ilmu cabang sebelum ilmu-ilmu yang pokok, ilmu-ilmu
pengantar sebelum ilmu-ilmu yang inti.
10Yang dimaksudkan dengan
pernyataan itu ialah bahwa pengajaran itu dilakukan secara bertahap, dengan
memperhatikan kondisi dan kemampuan orang yang diajarnya, sehingga
dapat ditingkatkan sedikit demi sedikit.
Persoalan yang perlu
diperhatikan oleh orang yang bergerak dalam bidang da'wah dan pendidikan
ialah bahwa juru da'wah dan pendidik itu mesti mengambil jalan yang paling mudah
dan bukan jalan yang susah; memberikan kabar gembira dan tidak
menakut-nakuti mereka; sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang
disepakati ke-shahih-annya oleh Bukhari dan Muslim,
"Permudahlah dan
jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari."
11Al-Hafizh ketika memberikan penjelasan terhadap hadits
ini mengatakan,
"Yang dimaksudkan dengan hal ini ialah menarik simpati
hati orang yang hampir dekat dengan Islam, dan tidak melakukan da'wah dengan
cara yang keras dan kasar pada awal mula kegiatan da'wah itu. Begitu pula
hendaknya kecaman terhadap orang yang suka melakukan kemaksiatan. Kecaman itu
hendaknya dilakukan secara bertahap. Karena sesungguhnya sesuatu yang pada tahap
awalnya dapat dilakukan dengan mudah, maka orang akan bertambah senang untuk
memasukinya dengan hati yang lapang. Pada akhirnya, dia akan bertambah baik
sedikit demi sedikit. Berbeda dengan cara berda'wah yang dilakukan dengan keras
dan kasar."
12Yang dimaksudkan dengan perkataan ,mempermudah, di
situ bukanlah terbatas pada orang-orang yang hampir dekat hatinya dengan
Islam, sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Hafizh, tetapi ia berlaku
lebih umum dan permanen. Misalnya mempermudah jalan bagi orang yang
hendak melakukan taubat, atau kepada setiap orang yang memerlukan
keringanan; seperti orang yang sakit atau sudah tua usianya, atau orang
yang berada di dalam keadaan yang mendesak.
Di antara keharusan yang
berlaku di dalam ilmu pengetahuan ialah upaya untuk mencari ilmu-ilmu agama
sejauh kemampuan yang dimiliki oleh seseorang, sesuai dengan kadar kemampuan
otaknya untuk menerima ilmu pengetahuan tersebut. Dia tidak boleh
mengucapkan sesuatu yang tidak cocok dengan akal pikirannya, sehingga hal
itu malah berbalik menjadi fitnah bagi dirinya dan juga kepada orang lain.
Sehubungan dengan hal ini Ali r.a. berkata, "Berbicaralah kepada manusia
sesuai dengan kadar pengetahuan mereka. Tinggalkan apa yang tidak cocok
dengan akal pikiran mereka. Apakah engkau menghendaki mereka mengatakan
sesuatu yang bohong terhadap Allah dan rasul-Nya?"
13Ibn Mas'ud r.a.
berkata, "Engkau tidak layak menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan
kadar kemampuan otak mereka. Jika tidak, maka engkau akan menimbulkan fitnah
pada sebagian orang itu."